Ketakutan & Fobia Anak Autisme

Kecemasan, Ketakutan & Fobia Pada Anak Autisme Yang Kadang Kurang Mendapat Perhatian Psikolog, Terapis dan Guru Pendamping

Terapi Okupasi

Salah satu orang tua dalam group “Kebersamaan” (Keluarga Besar Sahabat Anak Hebat Mandiri) group whatsapp bagi seluruh orang tua/wali di Lembaga Anak Hebat Mandiri, menceritakan bahwa anaknya mendapat hukuman dari terapis okupasinya, saat berayun dalam sesi okupasi terapi, tangannya tidak mau berpegangan pada tali ayunan, tetapi kedua tangannya selalu memegangi perutnya dengan kedua mata tetap terpejam. Kemudian, demikian pula saat sesi memanjat tangga pada dinding (wall trap), ia tidak mau melakukan sama sekali alias mogok.

Bahkan, sang terapis okupasi menyampaikan kepada sang ibu, bahwa anaknya telah mendapat hukuman darinya dengan ditutupi karung muka/ kepalanya dan kedua tangannya diikat, untuk hukuman masing-masing sesi tersebut.

Kemudian, sang ibu menanyakan kepada saya,  “Apakah memang sudah begitu prosedurnya, seorang terapis okupasi professional memberikan hukuman (punishment) seperti di atas?

Saya tidak tahu persis bagaimana harus menjawab akan hal itu. Lembaga Anak Hebat Mandiri memang lebih menitikberatkan pada terapi perilaku (Behavior Therapy). Tetapi dalam terapi pembelajarannya, diberikan pula OT (Okupasi Terapi) dan SI (Sensoris Integrasi). Akan tetapi, untuk OT yang perlu peralatan dirancang khusus (seperti ayunan, panjat dinding, trambolin, mandi bola dan lain-lainya), kami anjurkan untuk mencari sendiri atau menggunakan jasa OT dari RS atau jasa lainnya, asalkan lulusan DIII-Terapi Okupasi dan sudah bersertifikat dari Dinas Kesehatan.

Sebagaimana semua pakar dan ahli professional bersepakat, bahwa OT dan SI hanya efektif jika dibarengi dengan BT. Atau dengan kata lain BT akan meningkatkan terapi-terapi lainnya, seperti OT dan SI secara signifikan bagi perkembangan fungsionalnya.

Oleh karena itu, lembaga Anak Hebat Mandiri akan menganjurkan bukan merekomendasikan untuk OT dan SI bilamana dianggap perlu kepada orang tua/wali, sesuai kondisi yang dialami anak.

Dalam artikel ini, sengaja saya tidak akan mengulas lebih lanjut tentang OT karena saya sudah sering menuliskannya di kategori link menu Okupasi Terapi. Akan tetapi disini, saya hanya akan mengulas fenomena yang dirasakan sang anak, mengapa anak dalam berayun cenderung memegang kedua perutnya dengan memejamkan kedua matanya? Mungkinkah ini menunjukkan suatu ekpresi dari rasa ketakutan yang sangat. Takut akan ayunan?!

Dan anak yang tidak mau memanjat tangga dinding, mogok tidak mau memegang wall trap sama sekali, mungkinkah ini juga menunjukkan suatu ekpresi rasa ketakutan yang sangat. Takut akan ketinggian?!

Penelitian Ketakutan & Fobia Pada Anak Autisme

Masalah gangguan kecemasan, ketakuan & fobia sering terjadi bersamaan (komorbiditas) pada anak-anak atau remaja autisme. Meskipun prevalensi bervariasi dari 11% – 84%, kebanyakan studi menunjukkan bahwa sekitar satu-setengah dari anak-anak dengan autisme memenuhi kriteria, untuk setidaknya memiliki gangguan kecemasan dan ketakutan.

Dari semua jenis gangguan kecemasan secara spesifik, fobia yang paling banyak, dengan perkiraan prevalensi berkisar antara 31% sampai 64%. Sebaliknya, rentang perkiraan fobia pada anak-anak dalam populasi umum dari 5% menjadi 18%.

Ketakutan yang tidak lazim ini, telah lama dikenal sebagai fitur autisme. Bahkan, mulai 70 tahun yang lalu, Leo Kanner menulis bahwa anak autism bereaksi terhadap “suara keras dan bising dari benda-benda bergerak atau berputar” ibarat sperti horor yang sangat menakutkan. Hal-hal seperti “putaran roda, ayunan, lift, vacuum-cleaners, air yang mengalir deras bergemuruh, kompor gas, mainan mekanik, kocokan telur adonan kue, bahkan suara angin ribut pada suatu saat bisa membawa petaka kepanikan besar.

Anak-anak dengan autisme melihat sesuai pengalaman dan menanggapi dunia yang sangat berbeda dari anak-anak non-autisme. Pengalaman yang dapat ditoleransi untuk anak-anak tipikal khas autisme ini mungkin ketakutan yang  mengganggu, atau menjengkelkan bagi orang terdekat disekelilingnya.

Anak-anak dengan autism mungkin juga tidak menunjukkan reaksi responsif terhadap pengalaman lain (misalnya, tidak sensitif terhadap rasa sakit), tidak menunjukkan perilaku aneh atau pemisahan kecemasan, dan mungkin tampaknya tidak menyadari bahaya yang jelas (misalnya, berjalan ke lalu lintas yang ramai).

Penelitian sebelumnya memeriksa jenis dan frekuensi kecemasan & ketakutan pada anak-anak dengan autism. Penelitian itu telah menemukan kecenderungan perilaku anak-anak autisme mengalami ketakutan sekitar 40%, yang mana tampak hanya 0-5% dari anak-anak non-autisme, termasuk juga anak-anak yang mengalami kesulitan belajar (dyspraxia, dyslexia, dyscalculia), gangguan & keterlambatan berbicara dan berbahasa (speech & language delay or disorder), ADD/ ADHD (attention deficit/hyperactivity disorder), cacat intelektual (retardansi mental).

Studi juga menunjukkan ketakutan yang paling umum anak autism dan pengembangannya tipikal ini (seperti syndrome asperger, syndrome RETT, PDD-NOS) yang tumpang tindih, sering tidak dilaporkan. Seperti termasuk takut akan badai, takut akan banyak orang, dan takut ruang tertutup.

Sebuah studi skala besar yang dilaporkan dalam penelitian di Autism Spectrum Disorders meneliti ketakutan yang tidak lazim ini, dengan mengambil sampel 1.033 anak-anak yang berusia 1-16 tahun yang terkategorikan anak autisme.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkategorikan dan menentukan tipe tertentu dari ketakutan yang tidak lazim pada anak-anak autisme serta mengidentifikasi ada atau tidak adanya variabel yang berhubungan terkait dengan kecemasan & ketakutan.

Dari hasil penelitian ini, ketakutan yang tidak lazim ini dilaporkan di 421 anak (40,8%) dari jumlah total 1.033 anak-anak dengan autisme. Dari jumlah 421 ketakutan yang tidak lazim anak autis yang dilaporkan, 92 anak mewakili ketakutan yang berbeda. Yang paling umum ketakutan yang tidak lazim ini adalah takut toilet, terhitung 11,7% dari ketakutan yang tidak lazim seluruhnya.

Untuk anak-anak autis dengan rasa takut yang tidak lazim, 60,0% memiliki 1 ketakutan, 27,6% memiliki 2 ketakutan, 10,2% memiliki 3 ketakutan, 1,9% memiliki 4 ketakutan, dan satu anak memiliki 5 ketakutan.

Kategori & Frekuensi Ketakutan Yang Tidak Lazim Anak Autisme

Ketakutan yang tidak lazim ini dibedakan dalam 14 kategori. Lebih setengah dari 421 anak-anak dengan rasa takut yang tidak lazim memiliki kekhawatiran akan hal-hal mekanik, takut ketinggian, dan takut cuaca.

Kategori yang paling umum adalah takut pada hal-hal mekanik, menyumbang 23,8% dari jenis ketakutan yang dilaporkan. Untuk anak-anak dengan rasa takut yang tidak lazim, 71,1% memiliki ketakutan hanya dalam 1 kategori, 21,9% dalam 2 kategori, 6,7% dalam 3 kategori, dan 0,3% dalam 4 kategori.

Banyak anak juga memiliki ketakutan umum masa kanak-kanak dan fobia (termasuk takut akan anjing, bug, laba-laba, ular, gelap, dokter, tukang cukur, monster, orang berkostum, mainan mekanik, tidur sendirian, api, dan berenang), yang secara keseluruhan meningkatkan proporsi anak autis yang memiliki kecenderungan akan ketakutan dan fobia lebih dari 50%.

Kategori yang paling sering dilaporkan sebagai ketakutan yang tidak lazim adalah:

  1. Mekanik – Hal-hal Teknik (seperti: takut blender, alat pembuka, pemutar kaset, kipas langit-langit, pakaian, pengering rambut, latihan, sikat gigi listrik, kipas angin, pengering rambut, pengering tangan, leaf blower, toilet, vacuum cleaner, mesin cuci, air mancur, kursi roda, kaca wiper)
  2. Ketinggian (Lift, eskalator, ketinggian, langkah)
  3. Cuaca (petir/ halilintar, bencana alam seperti banjir, kekeringan, angin topan, tornado, hujan, badai, angin ribut)
  4. Non-mekanik (balon, layar hitam televisi, tombol, kancing, cangkang kerang, krayon, boneka, saluran air, outlet listrik, mata mainan selang taman, permukaan kaca meja, sinar menyilaukan dalam gelap, karet di bawah meja, rambut di bath-up, lampu, tahi lalat di wajah seseorang, bulan, bayangan, string, boneka binatang, berayun atau goyang, hal ketinggian, hal di langit-langit, ventilasi di rumah)
  5. Tempat (kamar mandi, kamar tidur, rumah atau restoran tertentu, tertutup atau ruang-ruang kecil, garasi, ruang besar atau terbuka, kamar dengan pintu terkunci atau terbuka)
  6. Kekhawatiran Mati (misalnya, tulang menembus dada, kecelakaan mobil, tenggelam, dimakan oleh kutu, serangan jantung, dibunuh, bencana alam, beracun, limpa meledak, berakhir dunia), kuman atau kontaminasi, kehabisan makanan tertentu, kehabisan gas, sesuatu jatuh di atas, menelan sesuatu ketika tidak, toilet meluap, pohon jatuh di rumah)
  7. Media & Visual (Karakter dalam segmen film, acara televisi, iklan, game komputer)

Jenis Tipe & Frekuensi Ketakutan Yang Tidak Lazim Anak Autisme

Jenis tipe ketakutan yang tidak lazim, yang sering dilaporkan oleh orang tua dibagi dua jenis:

  1. Ketakutan umum, biasanya tidak dilaporkan pada anak-anak pada populasi umum atau pada anak dengan fobia spesifik dan
  2. Ketakutan yang telah dilaporkan dalam studi dari anak-anak tanpa autisme tetapi yang dianggap tidak lazim oleh orang tua karena intensitas, obsessiveness, irasionalitas, atau gangguan fungsional.

Dari jumlah yang dilaporkan, ketakutan yang tidak lazim, yang paling umum di tiga atau lebih anak autisme adalah ketakutan akan:

  1. Toilet
  2. Lift
  3. Vacuum cleaner
  4. Petir
  5. Tornado
  6. Ketinggian
  7. Khawatir mati (misalnya, tulang menembus dada, kecelakaan mobil, tenggelam, dimakan oleh kutu, serangan jantung, dibunuh, bencana alam, keracunan, sakit, limpa meledak, atau berakhir dunia)
  8. Media Visual (karakter di atau segmen film, acara televisi, iklan, atau game komputer)

Variabel Terkait Ketakutan Yang Tidak Lazim Anak Autisme

Anak-anak dengan dan tanpa rasa takut yang tidak biasa atau tidak lazim ini, tidak berbeda dalam usia, tingkat IQ, usia, mental, tingkat keparahan autisme, ras atau pekerjaan orang tua. Dari semua variabel demografis, hanya jenis kelamin atau gender perempuan dikaitkan dengan variable ada atau tidak adanya ketakutan yang tidak biasa atau tidak lazim ini.

Anak perempuan lebih memiliki ketakutan yang tidak biasa (48,8%) dibanding anak laki-laki (39,1%). Hal ini konsisten dengan studi sebelumnya yang menunjukkan bahwa perempuan dengan autisme memiliki lebih ketakutan dibandingkan anak autism laki-laki. Dan dengan studi pada populasi umum, memang menunjukkan bahwa anak perempuan memiliki lebih banyak ketakutan dan skor survei ketakutan lebih tinggi dari anak laki-laki biasa tanpa autisme.

Temuan bahwa anak-anak dengan dan tanpa rasa takut yang tidak biasa atau tidak lazim ini, tidak berbeda dalam usia, menunjukkan bahwa anak dengan autisme tidak dapat mengatasi ketakutannya. Demikian juga, temuan mengenai keparahan autisme yang dialaminya, bahwa ketakutan cenderung dapat terjadi pada seluruh anak dengan autism tanpa memandang derajat tingkat spectrum keparahannya.

Para penulis mencatat bahwa kurangnya perbedaan demografi dalam penelitian ini mungkin merupakan masukan dasar utama neurobiologis untuk pengaruh kekhawatiran perkembangan fungsional dan sosialisasi anak dalam lingkungannya.

Kesimpulan

Penelitian menunjukkan bahwa sangat penting untuk menilai kecenderungan ketakutan yang tidak lazim ini pada anak-anak dengan autism karena dapat mengganggu secara signifikan fungsi perkembangan tumbuh-kembangnya.

Ketakutan dan fobia secara spesifik telah dikutip sering sebagai suatu rasa kecemasan & ketakutan yang dapat memicu stres pada anak-anak dengan autisme.

Dampak dari kecemasan, ketakutan & fobia meliputi:

  1. Personal distress pada anak, orang tua, dan saudara lingkungan social di sekelilingnya.
  2. Peningkatan perilaku membangkang atau mogok dan perilaku stereotip, terjadinya pembatasan-pembatasan aktivitas peluang kegiatan dan berdampak negatif pada kualitas hidup pada anak dan keluarga. Misalnya, anak-anak dengan autisme dapat menghindari situasi kehidupan yang diperlukan (misalnya, menolak atau mogok untuk pergi ke sekolah karena mungkin ada latihan kebakaran) atau berada dalam keadaan kecemasan yang konstan dan dapat mengganggu perkembangan fungsionalnya secara optimal karena ketakutannya.

Penutup

Identifikasi ketakutan spesifik dan fobia pada anak-anak dengan autism dapat membantu psikolog, terapis dan guru pendamping dalam meningkatkan program dan layanan yang diperlukan, untuk kelompok anak yang terkategorikan.

Informasi ini mungkin sangat berguna pula bagi dokter, terutama dengan memanfaatkan CBT sebagai pendekatan pengobatan untuk anak-anak dan remaja dengan autism.

Ada bukti yang menunjukkan bahwa intervensi digunakan untuk mengobati ketakutan yang intens dan fobia pada anak-anak tanpa autisme (exposure, desensitisasi, pemodelan, pembentukan, dan penguatan) sehingga juga mungkin efektif dapat digunakan bagi anak-anak yang memiliki autisme.

Terakhir, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menyelidiki mengapa beberapa ketakutan yang tidak lazim anak autism, tetapi jarang diketemukan pada populasi anak secara umum.

Akhirnya, para professional (psikolog, terapis dan guru pendamping) harus lebih peka tentang ketakutan dan alasan keanehannya, dengan demikian mungkin kita akan dapat lebih banyak memahami anak autisme dan perilakunya yang sangat tipikal itu. Semoga…

 

Referensi:

Mayes, S. D., Calhoun, S. L., Aggarwal, R., Baker, C., Mathapati, S., Molitoris, S., & Mayes, R. D. (2013). Unusual fears in children with autism. Research in Autism Spectrum Disorders, 7, 151–158.

Kanner, L. (1943). Autistic disturbances of affective contact. Nervous Child, 2, 217–250.

Lee A. Wilkinson, PhD, CCBT, NCSP is author of the award-winning book, A Best Practice Guide to Assessment and Intervention for Autism and Asperger Syndrome in Schools, published by Jessica Kingsley Publishers. Dr. Wilkinson is also editor of a recent volume in the APA School Psychology Book Series, Autism Spectrum Disorder in Children and Adolescents: Evidence-Based Assessment and Intervention in Schools and author of the new book, Overcoming Anxiety and Depression on the Autism Spectrum: A Self-Help Guide Using CBT.

Saya Dewi Lestari, sarjana psikolgi, menyukai psikologi anak (psikologi perkembangan dan pendidikan). Sangat mencintai dunia anak dengan disabilitas mental, emosional & perilaku. Anak Berkebutuhan Khusus, yang terdiagnosis Autism Spectrum Disorder (ASD)/ Syndrome Asperger/ RETT Syndrome/ PDD-NOS; Attention Deficit/ Hyperactivity Disorder (ADD/ADHD); Dyspraxia/ Dyslexia/ Dyscalculia; Retardasi Mental/ Down syndrome & Underachiever (Gifted/ Talented).

Tagged with: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
Posted in ASD-PDDNOS-Sindrome Asperger

Silahkan Tinggalkan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Upcoming Events

No upcoming events

Silahkan masukkan email untuk menerima notifikasi posting terbaru.

Join 704 other followers

Selalu Terhubung
Hours & Info
Buat Janji Kosultasi: 0819-0377-7481
Konsultasi: Setiap Hari Minggu 13.00-16.00.