Cara Mengatasi Agresivitas Relasional

Bagaimanakah Cara Mengatasi Siswi Sekolah Yang Berperilaku Agresivitas Relasional

Hanya gara-gara memilki tatto “Hello Kity” yang dianggap sama dengan temannya, seorang siswi SMA di kota pelajar, Yogyakarta, menjadi korban kebiadaban geng sekolah. Rambut korban digunduli, kemaluan korban ditusuk-tusuk dengan botol bekas minuman bir yang diberi lotion dan lem cair, bagian tubuh korban lainya juga disundut dengan rokok.

Korban akhirnya berhasil lolos saat berpura-pura ingin BAB kepada pelaku. Saat itulah dia kemudian berhasil kabur dan lari ke rumah pemilik kos dan menceritakan bahwa dirinya disekap. Setelah itu dia dibawa ke Polsek Sewon Bantul oleh pemilik kos.

Anak Perempuan

Tattoo Hello Kitty

Agresi atau intimidasi dapat didefinisikan sebagai tindakan yang menimbulkan kerugian fisik atau mental pada orang lain.

Anak perempuan biasanya berbeda dari anak laki-laki dalam jenis perilaku agresif yang mereka tunjukkan. Sementara anak laki-laki cenderung menyakiti tubuh, anak perempuan paling sering, meskipun tidak secara eksklusif, terlibat dalam melakukan agresi secara teresmbunyi atau relasional. Anak perempuan cenderung menghargai hubungan persahabatan dengan anak perempuan, sementara anak laki-laki biasanya lebih membentuk ikatan sosial melalui kegiatan kelompok.

Anak gadis dengan perilaku agresif sering memperoleh kekuasaan dengan menahan persahabatan atau dengan menyabotase teman mereka dalam menjalin hubungan relasi dengan orang lain.

Agresi relasional dikalkulasikan sebagai suatu hal manipulatif yang bertujuan, untuk melukai atau untuk mengawasi kemampuan anak lain dalam menjaga hubungan dengan teman-teman sebaya. Sebagai contoh, seorang anak gadis berperilaku agresif relasional mungkin bersikeras bahwa agar supaya semua teman-temannya mengacuhkan anak tertentu dari kelompok mereka, dengan berupaya membentuk konsesus rahasia tersembunyi untuk mempermalukan anak tersebut dan atau menyebarkan rumor dan gossip-gossip tentangnya.

Salah satu contoh yang termasuk manipulatif disini misalnya, “Jika kamu tidak mau bermain dalam permainan ini, saya akan memberitahu si ANU bahwa kamu memanggilnya si ANU itu bodoh!,” atau “Kamu harus melakukan apa yang saya katakan, jika tidak saya tidak akan mau berteman dengan kamu lagi!”

Anak-anak perempuan di prasekolah (KB atau Playgroup) telah banyak diamati tidak termasuk yang di atas, melainkan biasanya dengan mengatakan, “Jangan diperbolehkan dia bermain,” atau menggunakan pembalasan. “Dia nakalin saya kemarin, jadi dia tidak bisa menjadi teman kita.”

Sedang pada anak perempuan yang lebih remaja, gossip-gossip akan beredar bisa lebih ganas lagi, misalnya dengan mengatakan: “Saya melihat kecurangannya!”; “Ibunya adalah seorang pemabuk!”; “Dia hanyalah anak seorang gembel miskin!” atau “Dia hanyalah seorang pelacur!” dan lain sebagainya.

Meskipun kadang mugkin diketemukan lebih halus, namun komunikasi nonverbal dari bahasa tubuh seorang gadis yang berperilaku agresif adalah jelas. Misalnya, ia mungkin memutar matanya, melotot, mengabaikan, berpaling, mencibir, cemberut dan ketus mengenai anak yang ditolaknya.

Perilaku Agresivitas Relasional

Pada tahun 1995, Crick dan Grotpeter (1995: 710-722) menemukan bahwa anggota kelompok yang dijalankan oleh anak gadis agresif tampaknya peduli dan membantu terhadap satu sama lain. Namun, mereka juga mengamati tingkat yang lebih tinggi dari keintiman dan berbagi rahasia di antara kelompok ini. Kedekatan ini, menempatkan pengikut kelompok, beresiko karena anak gadis agresif adalah jamban untuk informasi pribadi yang dia bisa gossipkan. Mereka juga mencatat tingkat yang lebih tinggi dari eksklusivitas dalam kelompok yang dijalankan oleh anak gadis agresif relasional. Dengan kata lain, meskipun para pengikut kelompok, biasanya memiliki beberapa teman-teman lain untuk berpaling jika mereka ditolak oleh anak gadis yang agresif, namun mereka terus menerus berupaya menyesuaikan karena takut terasingkan.

Anak gadis sering merasa tertekan, mudah kecewa dan tidak menunjukkan emosi negatif. Ketika mereka tidak bisa menyatakan perasaan yang sebenarnya secara langsung, perasaan dendam akan muncul dan tetap hidup dalam kemarahan mereka yang termanifestasikannya secara tidak langsung. Ekses yang berlebihan dari agresivitas relasional dapat menjadi kebiasaan yang dapat menyebabkan seumur hidup dalam menjalin hubungan akan bermasalah. Oleh karena itu, seorang anak gadis yang menunjukkan perilaku agresivitas relasional, sangat membutuhkan intervensi dan bimbingan orang dewasa. Perlu ditekankan bahwa gadis-gadis ini sering memiliki kemampuan kepemimpinan, tetapi mereka membutuhkan bantuan untuk menyalurkannya ke arah yang lebih positif.

Menurut Crick (1996), anak perempuan berperilaku agresif relasional, tidak akan disukai lebih dari kebanyakan anak seusia mereka. Mereka menunjukkan masalah penyesuaian tingkat yang lebih tinggi dari rasa kesepian dan depresi. Gadis-gadis ini sering mengalami kesulitan menciptakan dan mempertahankan ikatan hubungan sosial dan pribadi. Juga sering diejek mengalami kesulitan penyesuaian. Penolakan dan perasaan sakit hati mereka dapat berlangsung seumur hidup. Dibandingkan rekan-rekan mereka mungkin memiliki nilai yang rendah, putus sekolah, terlibat dalam perilaku nakal dan perkelahian, merasa kesepian dan depresi, dan menghibur pikiran untuk bunuh diri.

Tips Bagi Staff Guru dan Bimbingan Konseling Sekolah

Berikut ini hal-hal apa yang bisa dilakukan pihak sekolah, semua staff guru dan bimbingan konseling dalam mengatasi dampak negatif dari pelaku dan target korbannya?

1. Perlu ditingkatkan kesadaran semua staf sekolah agar mereka memahami apa itu agresivitas relasional dan membahas bagaimana cara-cara untuk mengatasinya. Meskipun di lingkungan sekolah, konsekuensi untuk agresi rahasia tanpa henti akan terus bervariasi, tergantung pada suasana dan kedispilinan tata-tertib sekolah, tindakan, dan usia anak-anak. Konsekuensi-konsekuensi ini dapat mencakup rujukan untuk kelompok konseling dibawah bimbingan guru BK/ BP.

2. Amati anak di dalam kelas, saat makan siang, di aula, di tempat bermain, dan sebelum dan sesudah sekolah, mencatat reaksi nonverbal siswa untuk rekan-rekan. Bertanya pada diri sendiri:
a. Siapa saja di tempat bermain?
b. Yang mana yang merupakan pemimpin kelompok?
c. Bagaimana pengikutnya dalam kelompok bertindak terhadap orang lain?

3. Diskusikan agresi relasional dengan siswi-siswi untuk memastikan mereka tahu bahwa mulai rumor, mengejek orang lain, dan bentuk-bentuk agresi rahasia (fitnah dan gossip-gossip) adalah suatu hal yang tidak dapat diterima sama sekali dan dilarang oleh agama.

4. Memperkuat siswi-siswi  dengan keterampilan interaksi sosial melalui penggunaan latihan role-playing, sastra dan budaya, tugas menulis, dan sarana lainnya.

5. Tekankan untuk bisa mempertimbangkan perasaan orang lain, tenggang rasa, mengembangkan keterampilan untuk mau mendengarkan siswi lain, dan menunjukkan ciri-ciri karakter lain yang sangat penting untuk membentuk persahabatan yang sangat erat diantara para siswi.

6. Bantu anak gadis memahami bahwa konflik adalah kejadian alami dalam suatu persahabatan dan memberikan mereka kesempatan untuk berlatih mendukung satu sama lain. Dorong mereka untuk jujur menyelesaikan masalah melalui diskusi-diskusi terbuka dan kompromi-kompromi.

7. Percayailah korban. Karena gadis agresif relasional terampil dan pandai dalam menyembunyikan intimidasi mereka. Oleh karena itu, banyak guru/ pendidik dibutakan oleh penampilan yang lugu, polos, lembut, merasa tidak berdosa dan tidak akan pernah terlibat dalam agresi rahasia (innocent).

8. Memahami bahwa memiliki setidaknya seorang teman, dapat memfasilitasi persahabatan antara mereka, yang akan membantu mengatasi anak gadis berperilaku agresif relasional. Mendorong anak gadis untuk memilih teman-teman yang penuh perhatian dan dapat dipercaya dan tidak eksklusif.

9. Membantu setiap anak gadis dalam mengembangkan keyakinan bahwa dia adalah orang yang mampu yang memiliki banyak kekuatan dan yang dapat membela dirinya, dan perkuatkan sikap-sikap ini di setiap kesempatan.

10. Cari bantuan untuk korban dan pelaku. Hubungi orang tua dan atau bekerja dengan semua staf sekolah, semua guru dan bimbingan konselling, untuk mendorong kebaikan perkembangan sosial dan emosional mereka.

Referensi:

Crick, Nicki R., & Grotpeter, Jennifer K. (1995). Relational Aggression, Gender, And Social-psychological Adjustment. Child Development, 66 (3), 710-722.

Crick, Nicki R. (1996). The Role Of Overt Aggression, Relational Aggression, And Prosocial Behavior In The Prediction Of Children’s Future Social Adjustment. Child Development, 67 (5), 2317-2327.

Saya Dewi Lestari, sarjana psikolgi, menyukai psikologi anak (psikologi perkembangan dan pendidikan). Sangat mencintai dunia anak dengan disabilitas mental, emosional & perilaku. Anak Berkebutuhan Khusus, yang terdiagnosis Autism Spectrum Disorder (ASD)/ Syndrome Asperger/ RETT Syndrome/ PDD-NOS; Attention Deficit/ Hyperactivity Disorder (ADD/ADHD); Dyspraxia/ Dyslexia/ Dyscalculia; Retardasi Mental/ Down syndrome & Underachiever (Gifted/ Talented).

Tagged with: , , , , , , , , , , , , , ,
Posted in Smart Parenting, Tips dan Trick bagi Guru
2 comments on “Cara Mengatasi Agresivitas Relasional
  1. ijin copy di website:www.mas-ahmadsaidkudus.sch.id,ya bu..

    Liked by 1 person

    • Dengan senang hati. Semoga bermanfaat…
      Mohon kalau tidak keberatan, jika dirasakan bermanfaat, berikan rating, like dan share.
      Wass.wr.wb…

      NB:
      Mohon maaf, link website saya edit untuk mencegah broken link ke depannya.

      Like

Silahkan Tinggalkan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Upcoming Events

No upcoming events

Silahkan masukkan email untuk menerima notifikasi posting terbaru.

Join 704 other followers

Selalu Terhubung
Hours & Info
Buat Janji Kosultasi: 0819-0377-7481
Konsultasi: Setiap Hari Minggu 13.00-16.00.