Prevalensi Anak ADHD

Prevalensi Anak ADHD Anak-anak ADHD didapatkan pada semua golongan sosio ekonomi dan lebih sering didapatkan pada anak laki-laki daripada anak perempuan (dengan perbandingan 3-6 kali lebih banyak). Onset timbulnya gejala ADHD sebelum usia 7 tahun (1,2,3).
ADHD
Prevalensi anak ADHD berkisar antara 3-10% pada anak-anak usia sekolah, dan 35- 50% kasus ADHD dapat berlanjut ke masa remaja atau dewasa. Dari 34 juta kasus ADHD di USA, Eropa dan Jepang, diperkirakan 31%menjadi kasus ADHD dewasa (usia > 19 tahun) dan 69% kasus ADHD pada usia 3-19 tahun.

Penelitian longitudinal telah membuktikan bahwa sebanyak 2/3 dari anak-anak ADHD memiliki gejala ADHD yang mengganggu ketika mereka menjadi dewasa. Penelitian pada orang-orang dewasa yang ditemukan secara klinis dengan serangan ADHD masa kanak-kanak yang didefinisikan secara retrospektif menunjukkan bahwa mereka memiliki sebuah pola ketidakmampuan psikososial, komorbiditas kejiwaan, disfungsi neuropsikologis, penyakit familial, dan gagal sekolah yang menyerupai ciri-ciri anak-anak ADHD (1,4,5).

Anak-anak ADHD lebih banyak didapatkan pada masyarakat urban daripada masyarakat rural. Kira-kira 75% dari anak ADHD juga disertai gangguan psikiatrik lainnya misalnya gangguan sikap menentang, gangguan tingkah laku, gangguan belajar, gangguan penggunaan zat, gangguan cemas, gangguan tik, dan lain sebagainya (1,3,5)..

Di Amerika Serikat insidens ADHD diperkirakan berkisar antara 2–20% pada anak- anak usia sekolah dan 3-7% pada usia pra pubertas. Di Inggris Raya insidens ADHD lebih rendah, yaitu kurang dari 1%. Prevalensi pada laki-laki lebih tinggi daripada wanita dengan rasio terentang antara 2 : 1 sampai 9 : 1. Saudara derajat pertama misalnya saudara dari penderita ADHD berisiko tinggi untuk terjadinya gangguan lain seperti : gangguan tingkah laku, gangguan cemas, gangguan depresi, gangguan belajar, dan kesulitan bersosialisasi di sekolah. Orang tua penderita ADHD juga terbukti menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan insidens hiperkinetik, sosiopatik, penggunaan alkohol, dan gangguan konversi yang mendukung teori genetik sebagai salah satu penyebab ADHD. Gejala ADHD sering nampak pada usia 3 tahun, tetapi diagnosis seringkali baru bisa ditegakkan pada masa sekolah, seperti pada prasekolah atau Taman Kanak Kanak, yaitu ketika guru dan teman mengeluh akan kurangnya perhatian dan impulsivitasnya (2).

Prevalenssi pada wanita memang lebih rendah, tetapi gejalanya cenderung menetap dengan bertambahnya usia. Beberapa peneliti mendapatkan bahwa gejala ADHD menetap pada sebagian remaja dan dewasa, berkisar antara 31%-71%, meskipun dilaporkan hanya berkisar 8% gejalanya yang memenuhi kriteria ADHD pada usia dewasa. Literatur lain menyatakan 15%-20% ADHD menetap sampai dewasa dan 65% di antaranya mengalami masalah di bidang akademis dan pekerjaannya (6).

Referensi :

1. Barkley A R: Attention Deficit Hyperactivity Disorder, 2nd Ed, New York, The Guilford Press, 1998.

2. Sadock BJ and Sadock VA: Attention Deficit Disorders, Synopsis of Psychiatry 9th Ed, Lippincott Williams & Wilkins USA, 2003: pp 1223-1230.

3. Schachar R & Tannock R: Syndromes of Hyperactivity and Attention Deficit Disorder in Child and Adolescent Psychiatry by Rutter M and Taylor E, 4th Ed, Blackwell Science Ltd, USA, 2002, pp: 399-411.

4. Faraone G W and Biederman J: Neurobiology of attention deficit hyperactivity disorder in Neurobiology of Mental Illness by Charney DS and Nestler EJ 2nd Ed, Oxford University Press, New York 2004, pp 979-993.

5. The MTA Cooperative group: A 14 month randomized clinical trial of treatment strategies for attention deficit hyperactivity disorder. Multimodal treatment study of children with ADHD. Arch Gen.Psychiatry, 1999; 56: 1073-1086.

6. Mercugliano M: The Neurochemistry of ADHD in Attention Deficits and Hyperactivity in Children and Adults by Accardo P J et al, Marcel Dekker Inc, New York, 2000, pp 59-68.

Saya Dewi Lestari, sarjana psikolgi, menyukai psikologi anak (psikologi perkembangan dan pendidikan). Sangat mencintai dunia anak dengan disabilitas mental, emosional & perilaku. Anak Berkebutuhan Khusus, yang terdiagnosis Autism Spectrum Disorder (ASD)/ Syndrome Asperger/ RETT Syndrome/ PDD-NOS; Attention Deficit/ Hyperactivity Disorder (ADD/ADHD); Dyspraxia/ Dyslexia/ Dyscalculia; Retardasi Mental/ Down syndrome & Underachiever (Gifted/ Talented).

Tagged with: , , , , , , , , , , , , , , ,
Posted in ADD-ADHD

Silahkan Tinggalkan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Upcoming Events

No upcoming events

Silahkan masukkan email untuk menerima notifikasi posting terbaru.

Join 704 other followers

Selalu Terhubung
Hours & Info
Buat Janji Kosultasi: 0819-0377-7481
Konsultasi: Setiap Hari Minggu 13.00-16.00.