Satuan Pembelajaran Terindividualkan

Pengertian Satuan Pembelajaran Terindividualkan

Anak Belajar

Satuan Pembelajaran Terindividualkan (SPI) yaitu program pembelajaran yang merupakan penggalan-penggalan bagian dari rancangan PPI yang dikembangkan untuk kurun waktu satu sampai dengan tiga kali pertemuan. Berbeda untuk masing-masing anak/subjek dan jenis layanan terapi yang diperlukan,

  • Terapi perilaku ABA – Applied Behavior Analysis  (metode Lovaas)  sebagaimana kesepakatan ahli secara umum, waktu optimal atau efektif yang diperlukan 20 – 40 jam seminggu, demikian pula
  • Terapi Wicara, waktu optimal atau efektif yang diperlukan 10-12 jam seminggu.

Komponen Satuan Pembelajaran Terindividualkan

Komponen SPI tersebut mencakup:

1) identitas siswa dan identitas bidang pembelajaran;
2) sasaran belajar;
3) kondisi awal anak;
4) skenario pembelajaran, dan
5) evaluasi.

SPI adalah persiapan mengajar guru, untuk panduan arah pembelajaran setiap anak, pada setiap pertemuan. SPI disusun secara ringkas dan praktis.

Penyusunan & Evaluasi Satuan Pembelajaran Terindividualkan

a) kegiatan pembelajaran yang beraneka ragam;
b) variasi alat pembelajaran yang dapat menciptakan lingkungan belajar;
c) aktivitas yang dilakukan sesuai dengan keadaan anak; dan
d) kemampuan anak didik pada saat ini sebagai dasar penetapan bahan aja.

Skenario pembelajaram setidaknya memuat 3 (tiga) kegiatan, menurut Afandi (2002) yaitu: kegiatan pendahuluan, kegiatan pengkajian dan kegiatan pemantapan hasil belajar, dan tahap evaluasi kemajuan belajar.

Pertama, Kegiatan pendahuluan, yaitu merupakan tahap memotivasi dan mempersiapkan siswa untuk belajar. Aktivitas yang dilakukan melalui mengenalkan, mendemonstrasikan, memperagakan, mengajukan pertanyaan, dan bernyanyi. Substansi pada tahap pendahuluan dikaitkan dengan bahan ajar yang sudah dikenal.

Kedua, Kegiatan pengkajian dan pendalaman, yaitu tahap siswa melakukan aktivitas belajar melalui pengamatan, pembuktian, simulasi, melakukan aktivitas nyata dengan potensi pikir dan tenaga (potensi yang dimiliki) melalui bimbingan guru. Pada tahap ini setiap siswa diberi kesempatan untuk memilih aktivitas dan material pembelajaran yang disenangi.

Selain utuh dalam melaksanakan pembelajaran, perlu memperhatikan prinsip-prinsip:
a) menggunakan perintah dan cara kerja yang konsisten;
b) cakupan materi jangan terlalu banyak, jangan berganti materi baru sebelum anak mencapai kemajuanbelajar; dan
c) bantuan tangan, bantuan bahasa (verbal) dan bantuan contoh sangat dibutuhkan special needs children (anak berkebutuhan khusus) khususnya anak-anak yang terdiagnosis ASD (Autism Spectrum Disorder), ADD / ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), Dyspraxia (Motor Planning Disorders), Dyslexia (Kesulitan Berbahasa dan Mengeja), Down syndrome (Penurunan Kognitif dan Fisik) dan Underachiever (anak berbakat yang kurang ditumbuh-kembangkan atas potensi yang dimilikinya).

Kegiatan pemantapan hasil belajar, merupakan kegiatan pendalaman konsep yang atau keterampilan yang telah dimiliki anak sebagai hasil belajar. Anak berkebutuhan khusus (special needs children) diminta untuk mengulang kegiatan awal sampai yang telah dipelajari.

Pengulangan dapat dengan bahan yang sama, cara yang sama, dan langkah kerja yang sama. Special needs children (anak berkebutuhan khusus) dengan kemampuan menyelesaikan tugas lebih cepat dan mudah memahami, perlu ditingkatkan kesulitannya dengan melatih kemampuan generalisasi.

Kemampuan generalisasi dapat dilatih dengan cara mengulang pekerjaan yang sama dengan bahan yang berbeda atau mengulang aktivitas yang berbeda pada tempat yang sama. Pada tahap ini anak berkebutuhan khusus (special needs children) dilatih untuk dapat adaptasi dengan lingkungan, bahan-bahan, dan suatu cara kerja baru, meskipun pada taraf sederhana.

Tahap pemantapan hasil belajar juga dapat dilakukan dengan penugasan di rumah. Tugas yang diberikan dapat mengulang tugas dari sekolah atau tugas baru yang sama jenisnya.

Ketiga, tahap evaluasi kemajuan belajar merupakan tahap mengobservasi hasil belajar anak berkebutuhan khusus (special needs children). Evaluasi dilakukan secara proses, pada setiap tahap pekerjaan. Perkembangan kemampuan anak berkebutuhan khusus dapat dilihat dari perubahan kemampuan awal dan saat pelaksanaan pembelajaran.

Referensi

Affandi, M. 2002. Strategi Kegiatan Belajar Mengajar Kurikulum Muatan Lokal. Makalah disajikan dalam Pendidikan dan Pelatihan Nasional Calon Instruktur Kurikulum Muatan Lokal di Daerah, PPPG Kesenian, Yogyakarta, 22 September.

Saya Dewi Lestari, sarjana psikolgi, menyukai psikologi anak (psikologi perkembangan dan pendidikan). Sangat mencintai dunia anak dengan disabilitas mental, emosional & perilaku. Anak Berkebutuhan Khusus, yang terdiagnosis Autism Spectrum Disorder (ASD)/ Syndrome Asperger/ RETT Syndrome/ PDD-NOS; Attention Deficit/ Hyperactivity Disorder (ADD/ADHD); Dyspraxia/ Dyslexia/ Dyscalculia; Retardasi Mental/ Down syndrome & Underachiever (Gifted/ Talented).

Tagged with: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
Posted in Kurikulum Pembelajaran

Silahkan Tinggalkan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Upcoming Events

No upcoming events

Silahkan masukkan email untuk menerima notifikasi posting terbaru.

Join 704 other followers

Selalu Terhubung
Hours & Info
Buat Janji Kosultasi: 0819-0377-7481
Konsultasi: Setiap Hari Minggu 13.00-16.00.