Rancangan Pengembangan Kurikulum PPI dan SPI

Pengembangan Kurikulum PPI dan SPI.

Langkah- langkah pengembangan rancangan Program Pembelajaran Terindividualkan (PPI)  setidaknya memperhatikan 6 (enam), yaitu:

  1. Assessment,
  2. Merumuskan tujuan jangka panjang,
  3. Merumuskan tujuan jangka pendek,
  4. Menetapkan materi pembelajaran,
  5. Menetapkan kegiatan pembelajaran,
  6. Evaluasi kemajuan hasil belajar.

Metode dan Proses

Assessment adalah upaya yang sistematis untuk mengetahui kemampuan, kesulitan dan kebutuhan anak berkebutuhan khusus (special needs children), pada bidang tertentu. Hasil assessment dapat dijadikan bahan dalam menyusun pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan Program Pembelajaran Terindividualkan (PPI).

Assessment untuk pendidikan anak berkebutuhan khusus (special needs children), terutama pada anak yang terdiagnosis ASD (Autism Spectrum Disorder), ADD / ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), Dyspraxia (Motor Planning Disorders), Dyslexia (Kesulitan Berbahasa dan Mengeja), Down syndrome (Penurunan Kognitif dan Fisik) dan Underachiever (anak berbakat yang kurang ditumbuh-kembangkan atas potensi yang dimilikinya), minimal mencakup 4 (empat) bidang, yaitu : bidang akademik, bidang menolong diri, bidang senso-motorik dan bidang perilaku adaptif. Pelaksanaan assessment pada anak retardasi mental (mental health) dapat dilakukan melalui observasi dan test psikologis.

Ada dua bentuk observasi yaitu:

  1. observasi secara realita kehidupan anak, dan
  2. observasi melalui kondisi yang sengaja diciptakan.

Filosofi program pengembangan KTSP  (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) – Program Pembelajaran Individual (PPI)  dari Anak ABK adalah intervensi dini (observasi dan test-psikologi), ini penting dalam perencanaan penyusunan pengembangan isi kurikulum pembelajaran anak, motivasi anak, teknik pengajaran dan metode terapi pembelajaran, serta peran anak, orang tua, dan guru/ terapis dimana proses pembelajaran itu sendiri berasal.

Kurikulum Anak OrangtuaIntervensi dini melibatkan jaringan layanan kompleks apalagi untuk bayi. Penekanan ditempatkan pada layanan individualistis, memberikan kesempatan bagi keterlibatan aktif dan partisipasi keluarga, dan memilih tujuan dan strategi yang mencerminkan kebutuhan perkembangan dan kemampuan anak yang berfungsi dalam lingkungan sehari-hari. Selanjutnya, kolaborasi antara profesional dan fokus pada anak secara keseluruhan untuk memastikan pemberian layanan yang komprehensif dan layanan yang tepat.

Dalam prakteknya program intervensi yang paling awal menggabungkan pendekatan teoretis. Isi kurikulum, misalnya paling sering diperoleh dari, pegembangan kognitif dan/ atau pendekatan fungsional/ ekologi. Pendekatan Perilaku, di sisi lain, sering digunakan dalam merancang strategi instruksional.

Pendekatan dalam intervensi dini menurut Bricker dan Bricker (1976) memberikan contoh yang baik dari perspektif teoritis gabungan. Dalam pendekatan intervensi mereka, teori kognitif (Piaget) perkembangan anak memberikan dasar teoretis untuk isi, sedangkan strategi pengajaran dilaksanakan dengan memanfaatkan basis perilaku.

Assessment untuk kepentingan program pembelajaran hanya dapat dilakukan oleh guru/ terapis yang memiliki background disiplin ilmu psikologi.


//

About these ads

Saya Dewi Lestari, sarjana psikolgi lulusan salah satu perguruan tinggi terkemuka di Yogyakarta. Menyukai psikologi anak dan psikologi pendidikan. Sangat mencintai dunia anak, terlebih untuk anak-anak yang terdiagnosis ASD (Autism Spectrum Disorder), ADD / ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), Dyspraxia (Developmental Coordination Disorder), Dyslexia (Kesulitan Berbahasa dan Mengeja), Down syndrome (Penurunan Kognitif dan Fisik) dan Underachiever (anak berbakat yang kurang ditumbuh-kembangkan atas potensi yang dimilikinya).

Tagged with: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
Posted in Kurikulum Pembelajaran Anak ABK

Silahkan Tinggalkan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Silahkan masukkan email untuk menerima notifikasi posting terbaru.

Join 146 other followers

Selalu Terhubung
Hubungi Saya
Dewi Lestari, S.Psi.

Dewi Lestari, S.Psi.

Saya Dewi Lestari, sarjana psikolgi lulusan salah satu perguruan tinggi terkemuka di Yogyakarta. Menyukai psikologi anak dan psikologi pendidikan.

Sangat mencintai dunia anak, terlebih untuk anak-anak yang terdiagnosis ASD (Autism Spectrum Disorder), ADHD / ADD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder / Attention Deficit Disorder), Dyspraxia (Motor Planning Disorders), Dyslexia (Kesulitan Berbahasa dan Mengeja), Down syndrome (Penurunan Kognitif dan Fisik) dan Underachiever (anak berbakat yang kurang ditumbuh-kembangkan atas potensi yang dimilikinya).

Info Kontak :

0819 0377 7481 (Mobile-Phone)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 146 other followers

%d bloggers like this: